Secara
harfiah, kata media berasal dari bahasa latin medium yang memiliki arti
“perantara” atau “pengantar”. Menurut Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Guruan
(Association for Education and Communication technology/AECT) mendefinisikan
media sebagai benda yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca atau
dibicarakan beserta instrument yang dipergunakan dengan baik dalam kegiatan
belajar mengajar, dapat mempengaruhi efektifitas program instruksional (Asnawir
dan Usman,2002:11).
Media
pembelajaran sangat penting penggunaannya dalam dunia pendidikan, terutama
dalam kegiatan belajar mengajar. Rudi Susilana dan Cepi Riyana (2008: 7)
mengemukakan bahwa media pembelajaran dikatakan sebagai wadah dari materi dalam
proses pembelajaran. Oemar Hamalik (1986: 23) mengungkapkan bahwa yang dimaksud
dengan media pembelajaran adalah serangkaian alat, metode, dan teknik yang
digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi antara guru dan siswa
dalam proses pembelajaran di kelas.
Kedudukan
media dalam dunia pengajaran terletak pada komponen metode mengajar sebagai
salah satu upaya untuk meningkatkan proses interaksi guru dan siswa dengan
lingkungan belajarnya. Oleh sebab itu, fungsi utama media pengajaran adalah
sebagai alat bantu mengajar, yakni menunjang penggunaan metode belajar yang
diterapkan guru.
Dari
beberapa penapat di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa media
pembelajaran adalah alat, metode, atau teknik yang digunakan untuk
mengefektifkan komunikasi antara guru dan siswa. Tujuan penggunaan
mediapembelajaran adalah agar maksud atau informasi yang hendak disampaikan
dapat diterima dengan baik dan turut meningkatkan interaksi yang dilakukan guru
dan siswa.
Ada
beberapa tinjauan tentang landasan penggunaan media pembelajaran, antara lain
landasan filosofis, psikologis, teknologis, dan empiris.
1. Landasan filosofis. Ada suatu
pandangan, bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media hasil teknologi baru
di dalam kelas, akan berakibat proses pembelajaran yang kurang manusiawi.
Dengan kata lain, penerapan teknologi dalam pembelajaran akan terjadi
dehumanisasi. Akan tetapi, siswa dihargai harkat kemanusiaannya diberi
kebebasan untuk menentukan pilihan, baik cara maupun alat belajar sesuai dengan
kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak berarti dehumanisasi.
Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut tidak perlu muncul, yang penting
bagaimana pandangan guru terhadap siswa dalam proses pembelajaran. Jika guru
menganggap siswa sebagai anak manusia yang memiliki kepribadian, harga
diri,motivasi, dan memiliki kemampuan pribadi yang berbeda dengan yang lain,
maka baik menggunakan media hasil teknologi baru atau tidak, proses
pembelajaran yang dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan humanis.
2. Landasan psikologis. Dengan
memperhatikan kompleks dan uniknya proses belajar, maka ketepatan pemilihan
media dan metode pembelajaran akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar
siswa. Di samping itu, persepsi siswa juga sangat mempengaruhi hasil belajar. Oleh
sebab itu, dalam pemilihan media, di samping memperhatikan kompleksitas dan
keunikan proses belajar, memahami makna persepsi serta faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap penjelasan persepsi hendaknya diupayakan secara optimal
agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Untuk maksud
tersebut, perlu: (1) diadakan pemilihan media yang tepat sehingga dapat menarik
perhatian siswa serta memberikan kejelasan obyek yang diamatinya, (2) bahan
pembelajaran yang akan diajarkan disesuaikan dengan pengalaman siswa. Kajian
psikologi menyatakan bahwa anak akan lebih mudah mempelajari hal yang konkrit
ketimbang yang abstrak. Berkaitan dengan kontinum konkrit-abstrak dan kaitannya
dengan penggunaan media pembelajaran, ada beberapa pendapat.
• Pertama, Jerome Bruner, menurut
Bruner, ada tiga tingkatan utama modus belajar, yaitu pengalaman langsung
(enactive), pengalaman pictorial/ gambar (iconic), dan pengalaman abstrak
(symbolic). Pengalaman langsung adalah mengerjakan, misalnya arti kata ‘turbin’
dipahami dengan langsung membuat turbin sederhana (miniatur turbin). Pada
tingkatan kedua yang diberi label iconic (artinya gambar atau image), kata
‘turbin’ dipelajari dari gambar, lukisan, foto atau video (film). Meskipun
siswa belum pernah membuat turbin, mereka dapat mempelajari dan memahaminya
dari segi gambar, lukisan, foto atau film. Selanjutnya pada tingkatan symbol,
siswa membaca (atau mendengar) kata turbin dan mencoba mencocokkanya dengan
pengalamannya membuat turbin. Ketiga tingkat pengalaman ini saling berintegrasi
dalam upaya memperoleh pengalaman (pengetahuan, keterampilan atau sikap) yang
baru. Menurut Bruner, hal ini juga berlaku tidak hanya untuk anak tetapi juga
untuk orang dewasa.
• Kedua, Charles F. Haban,
mengemukakan bahwa sebenarnya nilai dari media terletak pada tingkat
realistiknya dalam proses penanaman konsep, ia membuat jenjang berbagai jenis
media mulai yang paling nyata ke yang paling abstrak.
• Ketiga, Edgar Dale, membuat
jenjang konkrit-abstrak dengan dimulai dari siswa yang berpartisipasi dalam
pengalaman nyata, kemudian menuju siswa sebagai pengamat kejadian nyata,
dilanjutkan ke siwa sebagai pengamat terhadap kejadian yang disajikan dengan
media, dan terakhir siswa sebagai pengamat kejadian yang disajikan dengan
simbol.
Salah
satu gambaran yang paling banyak digunakan acuan sebagai landasan teori
penggunaan media dalam pembelajaran adalah kerucut pengalaman Dale (Dale’s Cone
of Experience).
Kerucut pengalaman Dale (Heinich, et.al.,
2002:11)
Dalam
proses pembelajaran, media memiliki kontribusi dalam meningkatkan mutu dan
kualitas pengajaran. Kehadiran media tidak saja membantu pengajar dalam
menyampaikan materi ajarnya, tetapi memberikan nilai tambah pada kegiatan
pembelajaran. Kerucut pengalaman Dale diatas mengklasifikasikan media
berdasarkan pengalaman belajar yang akan diperoleh oleh peserta didik, mulai
dari pengalaman belajar langsung, pengalaman belajar yang dapat dicapai melalui
gambar, dan pengalaman belajar yang bersifat abstrak. Materi yang ingin
disampaikan dan diinginkan peserta didik dapat menguasainya disebut sebagai
pesan. Guru sebagai sumber pesan menuangkan pesan-pesan dalam simbol-simbol
tertentu (encoding) dan peserta didik sebagai penerima menafsirkan
simbol-simbol tersebut sehingga dipahami sebagai pesan (decoding).
3. Landasan teknologis. Sejalan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, teknologi komunikasi dan informasi
mengalami kemajuan yang sangat pesat untuk selanjutnya berpengaruh terhadap
pola komunikasi di masyarakat. Tuntutan masyarakat yang semakin besar terhadap
pendidikan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, membuat pendidikan
tidak mungkin lagi dikelola hanya dengan pola tradisional, karena cara ini
tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Hasil teknologi telah sejak lama dimanfaatkan
dalam pendidikan. Banyak yang dharapkan dari alat- alat teknologi pendidikan
yang membantu mengatasi berbagai masalah
pendidikan sehingga dapat membantu siswa belajar secara individual dengan
efektif dan efisien.
Dalam
konteks pendidikan yang lebih umum, ataupun hanya proses belajar mengajar,
teknologi pendidikan merupakan pengembangan penerapan, dan penilaian sistem ,
teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas belajar
manusia. Dengan demikian, aspek- aspeknya meliputi pertimbangan teoritik yang
merupakan hasil penelitian, perangkat dan peralatan teknis atau hardware, dan
perangkat lunaknya atau software.
Sasaran
akhir dari teknologi pembelajaran adalah memudahkan peserta didik belajar.
Untuk mencapai sasaran akhir ini, teknolog-teknolog di bidang pembelajaran
mengembangkan berbagai sumber belajar untuk memenuhi kebutuhan setiap peserta
didik sesuai dengan karakteristiknya.
Dalam
upaya itu, teknolog berkerja mulai dari pengembangan dan pengujian teori-teori
tentang berbagai media pembelajaran melalui penelitian ilmiah, dilanjutkan
dengan pengembangan disaignnya, produksi, evaluasi dan memilih media yang telah
diproduksi, pembuatan katalog untuk memudahkan layanan penggunaannya,
mengembangkan prosedur penggunaannya, dan akhirnya menggunakan baik pada
tingkat kelas maupun pada tingkat yang lebih luas lagi. Semua kegiatan ini
dilakukan oleh para teknolog dengan berpijak pada prinsip bahwa suatu media
hanya memiliki keunggulan dari media lainnya bila digunakan oleh peserta didik
yang memiliki karakteristik sesuai dengan rangsangan yang ditimbulkan oleh
media pembelajaran itu. Dengan demikian, proses belajar setiap peserta didik
akan amat dimudahkan dengan hadirnya media pembelajaran yang sesuai dengan
karakteristik belajarnya.
4.
Landasan empiris. Temuan-temuan
penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara penggunaan media
pembelajaran dan karakteristik belajar siswa dalam menentukan hasil belajar
siswa. Artinya, siswa akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar
dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya
belajarnya. Siswa yang memiliki tipe belajar visual akan lebih memperoleh
keuntungan bila pembelajaran menggunakan media visual, seperti gambar, diagram,
video, atau film. Sementara siswa yang memiliki tipe belajar auditif, akan
lebih suka belajar dengan media audio, seperti radio, rekaman suara, atau
ceramah guru. Akan lebih tepat dan menguntungkan siswa dari kedua tipe belajar
tersebut jika menggunakan media audio-visual. Berdasarkan landasan rasional
empiris tersebut, maka pemilihan media pembelajaran hendaknya jangan atas dasar
kesukaan guru, tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik
pebelajar, karakteristik materi pelajaran, dan karakteristik media itu sendiri.
Sumber:
Ibrahim, H. 1997. Media
pembelajaran: Arti, fungsi, landasan pengunaan, klasifikasi, pemilihan, karakteristik oht, opaque, filmstrip, slide,
film, video, Tv, dan penulisan naskah slide. Bahan sajian program pendidikan akta mengajar III-IV. FIP-IKIP Malang.
Moedjiono. 1981. Media pendidikan III: Cara pembukaan
media pendidikan. Jakarta: P3G. Depdikbud.
Sadiman, A.S. 1986. Media pendidikan: pengeratian,
pengembangan, dan pemanfaatannya. Jakarta: Cv. Rajawali.