Tugas Tatap Muka ke-2 dan ke-3
1.
Menurut cognitive theory of multimedia
learning bahwa ada tiga asumsi utama yang dijadikan acuan dalam merancang suatu
multimedia pembelajaran. Jelaskan ketiga asumsi tersebut dengan memberikan
contoh masing-masing media yang relevan
untuk
pembelajaran kimia.
Jawab:
Sweller mengungkapkan, “Cognitive
Load Theory (CLT) began as instructional theory based on our knowledge of human
cognitive architecture. Cognitive Load Theory merupakan suatu teori yang
diperkenalkan sebagai teori pengajaran yang berdasar pada pengetahuan dari
arsitektur kognitif manusia yang kita miliki. Prinsip utama Cognitive Load
Theory adalah kualitas dari pembelajaran akan meningkat jika perhatian
dikonsentrasikan pada peran dan keterbatasan memori kerja. Clark dkk
mengungkapkan bahwa terdapat Cognitive Load Theory dalam memori kerja, yaitu 1)
intrinsic cognitive load, 2) germany cognitive load, dan 3) extraneous
cognitive load (Kuan, 2010).
a) Intrinsic Cognitive Load
Intrinsic Cognitive Load bergantung
pada tingkat kesulitan dari suatu materi. Akan tetapi dengan teknik penyajian
yang baik, yaitu yang tidak menyulitkan pemahaman peserta didik, akan mengelola
Intrinsic Cognitive Load . Pemahaman suatu materi dapat dengan mudah terjadi
jika pengetahuan sebelumnya dapat dipanggil dari memori jangka panjang. Oleh
karena itu, jika pengetahuan tersebut dapat otomatis dipanggil ke memori kerja,
maka dapat mengelola Intrinsic Cognitive Load.
Misalnya menjelaskan materi ikatan
kimia. Terlebih dahulu kita menjelaskan tentang struktur atom. Materi struktur
atom ini telah dipelajari pada beberapa pertemuan sebelumnya. Maka untuk
memanggil kembali memori siswa, bias digunakan media molymod (model struktur
atom).
b) Germany Cognitive Load
Germany Cognitive Load adalah beban
yang relevan atau menguntungkan yang dikenakan oleh metode pengajaran yang
mengarah pada hasil belajar yang lebih baik (Kuan, 2010:7). Germany Cognitive
Load ini relevan dengan tujuan pengajaran. Dengan pemberian motivasi kepada
siswa dan pemberian contoh soal dapat meningkatkan Germany Cognitive Load .
c) Extraneous Cognitive Load
Extraneous Cognitive Load
bergantung pada cara pesan-pesan instruksional tersebut dirancang-yakni, pada
cara materi tersebut ditata dan disajikan (Mayer, 2009:74). Penyajian materi
yang tidak dirancang dengan baik, maka individu harus menghadapi pemrosesan
kognitif yang tidak relevan. Jika penyajian materi dirancang dengan baik, maka
Extraneous Cognitive Load-nya sangat kecil. Misalnya pembelajaran dengan
multimedia, jika pada slide-nya hanya disajikan tulisan saja, dibandingkan
dengan slide yang berisi tulisan atau gambar yang relevan, maka Extraneous
Cognitive Load-nya lebih rendah dibandingkan slide yang berisi tulisan saja.
Selain itu, desain pembelajaran yang tidak efisien akan menambah Cognitive Load
yang tidak diperlukan.
Ketiga jenis Cognitive Load diatas
berada dalam memori kerja yang memiliki kapasitas terbatas. Untuk materi yang
tingkat kesulitannya tinggi, yaitu materi yang kompleks, maka Exstraneous
Cognitive Load harus ditekan serendah mungkin sehingga proses pembelajaran
dapat berjalan dengan baik.
Dalam pembelajaran, kelebihan
Cognitive Load tergantung pada tingkat kompleksitas atau tingkat kesulitan dari
materi yang dipelajari, yaitu penyebab intrinsic cognitive load. Jika materi
yang harus dipelajari memiliki intrinsic cognitive load tinggi, maka desain
pembelajaran harus diorganisasi sedemikian rupa agar exstraneous cognitive load
dapat ditekan seminim mungkin. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi kelebihan
cognitive load. Oleh karena itu, pembelajaran yang efektif terletak pada
optimasi cognitive load dalam kapasitas memori kerja siswa yang terbatas (Kuan,
2010:7). Optimasi cognitive load ini dapat dicapai dengan mengelola intrinsic
cognitive load, mengurangi extraneous cognitive load, dan meningkatkan germany
cognitive load (Kalyuga dalam Kuan, 2010:7). Berikut adalah model pembelajaran
efektif menurut Clark dkk. (dalam Kuan, 2010:7):
Dari gambar di atas dapat diketahui
bahwa pembelajaran yang efisien dapat dicapai dengan mengurangi beban yang
tidak relevan (decrease irrelevant load) yaitu mengurangi extraneous
cognitive load, meningkatkan beban yang relevan (increase relevant load)
yaitu meningkatkan germany cognitive load, dan mengelola intrinsic
cognitive load (manage intrinsic load).
2. Jelaskan
bagaimana teori dual coding dapat diadaptasikan dalam menyiapkan suatu
multimedia pembelajaran kimia
Jawab:
Teori
dual coding yang dikemukakan Allan Paivio (Paivio, 1971, 2006) menyatakan bahwa
informasi yang diterima seseorang diproses melalui salah satu dari dua channel,
yaitu channel verbal seperti teks dan suara, danchannel visual (nonverbal
image) seperti diagram, gambar, dan animasi. Kedua channel ini dapat berfungsi
baik secara independen, secara paralel, atau juga secara terpadu bersamaan
(Sadoski, Paivio, Goetz, 1991). Kedua channel informasi tersebut memiliki
karakteristik yang berbeda. Channel verbal memroses informasi secara berurutan
sedangkan channel nonverbal memroses informasi secara bersamaan (sinkron) atau
paralel.
Aktivitas
berpikir dimulai ketika sistem sensory memory menerima rangsangan dari
lingkungan, baik berupa rangsangan verbal maupun rangsangan nonverbal.
Hubungan-hubungan representatif (representational connection) terbentuk untuk
menemukan channel yang sesuai dengan rangsangan yang diterima. Dalam channel
verbal, representasi dibentuk secara urut dan logis, sedangkan dalam channel
nonverbal, representasi dibentuk secara holistik. Sebagai contoh, mata, hidung,
dan mulut dapat dipandang secara terpisah, tetapi dapat juga dipandang sebagai
bagian dari wajah. Representasi informasi yang diproses melalui channel verbal
disebut logogen sedangkan representasi informasi yang diproses melalui channel
nonverbal disebut imagen (lihat Gambar).
Hasil
penelitian yang dilakukan oleh Paivio dan Bagget tahun 1989 dan Kozma tahun
1991, mengindikasikan bahwa dengan memilih perpaduan media yang tepat, kegiatan
belajar dari seseorang dapat ditingkatkan (Beacham, 2002; Dede, 2000; Hogue,
(?)). Sebagai contoh, informasi yang disampaikan dengan menggunakan kata-kata
(verbal) dan ilustrasi yang relevan memiliki kecenderungan lebih mudah
dipelajari dan dipahami daripada informasi yang menggunakan teks saja, suara
saja, perpaduan teks dan suara saja, atau ilustrasi saja.
Menurut
teori Dual Coding yang dikemukakan oleh Paivio, kedua channel pemrosesan
informasi tersebut tidak ada yang lebih dominan. Namun demikian, Carlson,
Chandler, dan Sweller tahun 2003 dalam (Ma, (?)) telah melakukan sebuah riset
untuk melihat apakah pembelajaran yang dilakukan melalui diagram atau teks akan
membantu kegiatan belajar. Carlson dan kawan-kawan mengasumsikan bahwa karena
diagram lebih lengkap dibandingkan teks, dan dengan diagram seseorang mampu
menghubungkan antara elemen yang satu dengan yang lainnya, maka orang yang
belajar melalui diagram akan lebih berprestasi dibandingkan dengan orang yang
belajar dengan menggunakan teks saja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk
bahan belajar yang memiliki tingkat interaktivitas tinggi, kelompok yang
belajar dengan menggunakan diagram memiliki prestasi lebih tinggi dibandingkan
dengan yang hanya belajar dengan teks. Untuk bahan belajar yang tidak memiliki
tingkat interaktivitas yang tinggi, kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan
prestasi yang signifikan.
Sebagai
tambahan kesimpulan dari teori dual coding ini jika dikaitkan dengan bagaimana
seseorang memroses suatu informasi baru, dapat dinyatakan bahwa teori ini
mendukung pendapat yang menyatakan seseorang belajar dengan cara menghubungkan
pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior
knowledge). Peneliti berpendapat bahwa seorang tenaga pemasaran yang memiliki
masa kerja lebih lama juga memiliki prior knowledge yang lebih banyak
dibandingkan dengan mereka yang memiliki masa kerja lebih pendek, sehingga
dapat diharapkan bahwa para tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih
lama akan lebih mudah memahami informasi baru yang disampaikan.
Teori
Dual Coding juga menyiratkan bahwa seseorang akan belajar lebih baik ketika
media belajar yang digunakan merupakan perpaduan yang tepat dari channel verbal
dan nonverbal (Najjar, 1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut, peneliti
berpendapat bahwa ketika media belajar yang digunakan merupakan gabungan dari
beberapa media maka kedua channel pemrosesan informasi (verbal dan nonverbal)
dimungkinkan untuk bekerja secara paralel atau bersama-sama, yang berdampak
pada kemudahan informasi yang disampaikan terserap oleh pembelajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar