E-learning
Pengertian
e-learning pada umumnya terfokus pada cakupan media atau teknologinya.
E-learning menurut Gilbert & Jones dalam Surjono (2007) adalah suatu
pengiriman materi pembelajaran melalui suatu media elektronik, seperti
internet, intranet/ekstranet, satelite broadcast, audio/video, TV interaktif,
CD-ROM dan computer based training (CBT). E-learning juga diartikan sebagai
seluruh pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN atau
Internet) untuk membantu interaksi dan penyampaian materi selama proses
pembelajaran (Kumar, 2006). Urdan dan Weggen menyatakan e-learning sebagai
suatu pengiriman materi melalui semua media elektronik, termasuk internet,
intranet, siaran radio satelit, alat perekam audio/video, TV interaktif, dan
CD-ROM (Anderson, 2005).
Pengertian
e-learning berbeda dengan pembelajaran secara online (online learning) dan
pembelajaran jarak jauh (distance learning). Online learning merupakan bagian
dari e-learning, hal ini seperti yang dinyatakan oleh Australian National
Training Authority bahwa e-learning merupakan suatu konsep yang lebih luas
dibandingkan online learning, yaitu meliputi suatu rangkaian aplikasi dan
proses-proses yang menggunakan semua media elektronik untuk membuat pelatihan
dan pendidikan vokasional menjadi lebih fleksibel. Online learning merupakan
suatu pembelajaran yang menggunakan internet, intranet dan ekstranet, atau
pembelajaran yang menggunakan jaringan komputer yang terhubung secara langsung
dan luas cakupannya (global). Sedangkan distance learning, cakupannya lebih
luas dibandingkan e-learning, yaitu tidak hanya melalui media elektronik tetapi
bisa juga menggunakan media non-elektronik. Distance learning lebih menekankan
pada ketidakhadiran pendidik setiap waktu. Berdasarkan uraian yang telah
dikemukakan secara umum e-learning dapat diartikan sebagai pembelajaran yang
memanfaatkan atau menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. E-learning
adalah kegiatan belajar yang menggunakan internet yang dapat dikombinasikan
dengan kegiatan tatap muka yang ada di lembaga pendidikan.
Penerapan
e-learning banyak variasinya, karena perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi yang cepat. Surjono (2007), menekankan penerapan e-learning pada
pembelajaran secara online dan dibagi menjadi dua yaitu sederhana dan terpadu.
Penerapan e-learning yang sederhana hanya berupa kumpulan bahan pembelajaran
yang dimasukkan ke dalam web server dan ditambah dengan forum komunikasi
melalui e-mail dan atau mailing list (milist). Penerapan terpadu yaitu berisi
berbagai bahan pembelajaran yang dilengkapi dengan multimedia dan dipadukan
dengan sistem informasi akademik, evaluasi, komunikasi, diskusi, dan berbagai
sarana pendidikan lain, sehingga menjadi portal e-learning. Pembagian tersebut
di atas berdasarkan pada pengamatan dari berbagai sistem pembelajaran berbasis
web yang ada di internet. Nedelko (2008), menyatakan ada tiga jenis format penerapan
e-learning, yaitu:
a. Web
Supported e-learning, yaitu pembelajaran tetap dilakukan secara tatap muka dan
didukung dengan penggunaan website yang berisi rangkuman tujuan pembelajaran,
materi pembelajaran, tugas, dan tes singkat
b. Blended
or mixed mode e-learning, yaitu sebagaian proses pembelajaran dilakukan secara
tatap muka dan sebagian lagi dilakukan secara online
c. Fully
online e-learning format, yaitu seluruh proses pembelajaran dilakukan secara
online termasuk tatap muka antara pendidik dan peserta didik juga dilakukan
secara online yaitu dengan menggunakan teleconference.
Penerapan
e-learning lebih banyak dimaknai sebagai pembelajaran menggunakan teknologi
jaringan (net) atau secara online. Hal ini berkaitan dengan perkembangan TIK
yang mengarah pada teknologi online. TIK saat ini, lebih difokuskan untuk
pengembangan networking (jaringan) yang memungkinkan untuk mengirim,
memperbaharui, dan berbagi informasi secara cepat. Keberhasilan penerapan dari
e-learning bergantung pada beberapa faktor antara lain teknologi, materi
pembelajaran dan karakteristik dari peserta didik. Teknologi merupakan faktor
pertama yang mempunyai peran penting di dalam penerapan e-learning, karena jika
teknologi tidak mendukung maka sangat sulit untuk menerapkan e-learning,
minimal sekolah mempunyai komputer. Materi pembelajaran juga harus sesuai
dengan tujuan pembelajaran, dijabarkan secara jelas atau diberikan link ataupun
petunjuk sumber pembelajaran yang lain. Karaktersitik peserta didik juga sangat
dibutuhkan karena nilai utama di dalam e-learning adalah kemandirian.
E-learning
sangat berbeda dengan pembelajaran secara tradisional. Pada pembelajaran
tradisional, peran pendidik masih cukup dominan, sedangkan pada e-learning
peserta pendidik harus mempunyai kesadaran untuk belajar secara aktif dan
mandiri. Nedelko (2008), menjelaskan beberapa karakteristik peserta didik yang
dapat mempengaruhi dari keberhasilan e-learning:
1) Mempunyai
pengetahuan dan keterampilan untuk menggunakan komputer dan TIK lainnya, karena
e-learning didukung oleh penggunaan komputer dan peralatan TIK.
2) Motivasi
untuk belajar, peserta didik harus mempunyai kesadaran untuk mempelajari bahan
dan materi yang telah diberikan guru, bukan hanya belajar ketika di kelas saja.
3) Disiplin,
peserta didik harus disiplin untuk belajar, mengerjakan tugas, dan menentukan
waktu dan tempat untuk belajar.
4) Mandiri,
kemandirian peserta didik mutlak diperlukan di dalam e-learning, karena tidak
setiap saat antara peserta didik dan pendidik dapat bertatap muka. Pembelajaran
tatap muka lebih bersifat sebagai diskusi antara peserta didik dengan pendidik,
bukan sebagai transfer pengetahuan saja.
5) Mempunyai
ketertarikan terhadap e-literatur, karena hampir semua materi pembelajaran
disajikan secara online ataupun melalui media elektronik.
6) Dapat
belajar secara sendirian (felling isolation), peserta didik yang ketika belajar
harus secara berkelompok atau ada teman akan merasa kesulitan dengn e-learning.
7) Mempunyai
kemampuan kognitif yang cukup tinggi, peserta didik yang mengikuti e-learning
hendaknya mempunyai kemampuan kognitif tingkat sintesis dan evaluasi, hal ini
dapat untuk mengatasi permasalahan ketidakintesifan pendampingan pendidik dan
teman sebayanya.
8) Mempunyai
kemampuan untuk memecahkan masalah, peserta didik yang dapat memecahkan masalah
secara mandiri akan lebih mudah mengikuti e-learning.
E-learning
membutuhkan model yang harus didisain dalam bentuk pembelajaran inovatif.
Pengembang, mempunyai kesempatan dalam
merencanakan pengalaman sebelumnya untuk penerapan program e-learning. Untuk keperluan
pengembangan e-learning, pengembang konten pembelajaran diharapkan melakukan
keseluruhan dari kecakapan mengajar dalam proses pembelajaran e-learning.
Pengembang diharapkan dapat mengganti kekurangan dari subtansi atau waktu yang
mungkin terjadi dalam pembelajaran konvensional. Walaupun demikian, pengalaman
belajar yang terstruktur dengan baik belum cukup mengganti kekurangan kecakapan
komunikasi dalam proses pembelajaran e-learning. Performansi peserta didik
melalui e-learning adalah memperlihatkan kemampuan e-learning dalam
pengintegrasian proses pembelajaran. Komunikasi elektronik dikombinasikan
dengan proses pengembangan yang dibutuhkan untuk menempatkan suatu pembelajaran
dalam fasilitas format e-learning yang pengintegrasiannya ke dalam penstrukturan
konten.
Konten
e-learning adalah objek yang harus ada agar pembelajaran dapat berjalan,
sedangkan aktor e-learning adalah individu-individu yang melaksanakan
pembelajaran e-learning. Konten e-learning dapat berupa text-based content,
multimedia-based content ataupun kombinasi keduanya (text-based content dan
multimedia-based content).
Aktor
dalam pelaksanakan e-learning dapat dikatakan sama dengan aktor pada
pembelajaran konvensional, dalam pembelajaran diperlukan adanya pengajar atau
tutor yang membimbing, siswa yang menerima bahan ajar dan pengajaran serta
administrator yang mengelola administrasi dan proses belajar mengajar.
Konten
dan aktor memiliki hubungan yang sangat erat, karena konten e-learning dibuat,
disimpan, dirawat dan dipergunakan oleh aktor e-learning itu sendiri. Terdapat
daur hidup (lifecycle) dalam konten e-learning dan aktor adalah pusat dari daur
hidup tersebut. Aktor berperan dalam membua (create), menyimpan (archive),
merawat (maintain) dan mempergunakan (use) konten e-learning.
Setiawan
(2014) melaporkankan bahwa Technology Acceptance Model (TAM) telah mengalami
ekstensi dengan memperhatikakan faktor eksternal, yaitu keyakinan diri (self
efficacy) dan tekanan sosial (sosial influence) yang menjelaskan lebih lanjut
dan penyebab dari kemudahan penggunaan (Perceived Ease Of Use) dan tentang
kemanfaatan (Perceived Usefulness) yang dimiliki pengguna teknologi. Salah satu
faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku penerimaan teknologi adalah
pengaruh sosial (social influence) atau lebih spesifik disebut dengan
psychological attachment.
Pengembangan
Pengembangan
bahan ajar berbasis e-learning dengan materi hidrokarbon dan minyak bumi ini
didasarkan pada model pengembangan yang direkomendasikan oleh Thiagarajan (1974),
yakni 4D-Model yang terdiri dari pembatasan (define), perencanaan (design),
pengembangan (develop), dan penyebarluasan (disseminate).
1.
Tahap
pendefinisian (define)
Tahap
pendefinisian (define) adalah untuk menentukan dan menegaskan kebutuhan-kebutuhan
pembelajaran. Langkah-langkah yang dilakukan dalam tahap ini adalah: (1)
analisis ujung depan yang mengarah pada hasil akhir dari pengembangan yakni berupa
bahan ajar berbasis e-learning, (2) analisis siswa, langkah ini menetapkan
subyek pebelajar dan sasaran belajar siswa yaitu siswa kelas X semester 2
dengan materi pokok senyawa hidrokarbon dan minyak bumi dengan karakter siswa
yang telah mengenal internet, dan (3) perumusan indikator hasil belajar yang
dirumuskan berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar pada kurikulum
tingkat satuan pendidikan (KTSP). Analisis siswa dibedakan menjadi dua, yaitu:
(1) analisis tugas dengan mencari literature dan sumber belajar tentang
hidrokarbon dan minyak bumi dan (2) analisis konsep yang dilakukan dengan
mengidentifikasi konsep-konsep utama yang akan dipelajari.
2.
Tahap
perencanaan (design)
Tahap
perencanaan (design) meliputi tiga langkah yaitu: (1) penyusunan tes dengan membuat
soal yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman materi dan keberhasilan
siswa dalam memahami materi dalam bahan ajar, (2) pemilihan media untuk mendapatkan
media yang tepat sesuai dengan perkembangan era teknologi yang sedang berlangsung,
yaitu media internet, dan (3) perancangan awal yang meliputi membaca buku teks
yang relevan, menulis bahan ajar, adaptasi bahan ajar, konsultasi secara
intensif dengan dosen pembimbing.
3.
Tahap
pengembangan (develop)
Pada
tahap pengembangan (develop) langkah- langkah yang dilakukan adalah:
(1)
konsultasi dengan pembimbing yang bertujuan untuk merancang dan menyusun media
dan instrumen yang akan dipakai dalam penelitian,
(2)
validasi yang merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data tentang nilai yang
diperoleh dari validator,
(3)
analisis hasil validasi, hasil validasi dianalisis sesuai dengan penilaian,
saran, dan kritik dari validator,
(4)
revisi bahan ajar berbasis e-learning yang bertujuan untuk menyempurnakan bahan
ajar yang akan digunakan, dan
(5)
uji coba terbatas, tujuan uji coba ini hanya untuk mengetahui kelayakan dari
produk pengembangan yakni bahan ajar berbasis e-learning.
4.
Tahap
penyebarluasan (disseminate)
Tahap
keempat yaitu penyebarluasan (disseminate) merupakan tahap penggunaan bahan
ajar yang telah dikembangkan pada skala yang lebih luas. Tahap ini bertujuan
untuk menguji efektivitas penggunaan bahan ajar berbasis e-learning hasil
pengembangan. Dalam pengembangan ini, tahap penyebarluasan (disseminate) tidak
dilakukan karena pertimbangan keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya. Selain
itu, disesuaikan dengan tujuan pengembangan bahan ajar berbasis e-learning
yakni untuk mengetahui kelayakan bahan ajar bukan untuk mengukur prestasi
belajar siswa.
Teknis Pelaksanaan E-Learning
Secara
garis besar, teknis pelaksanaan e-learning dapat dilakukan dengan dua cara,
yakni: (1) hanya menggunakan media Web biasa, dan (2) menggunakan software
khusus e-learning berbasis Web yang sering disebut dengan istilah learning management
system (LMS). Pada cara pertama, materi-materi pembelajaran disajikan pada
sebuah situs Web. Siapapun dapat mengakses materi secara bebas atau dibatasi
dengan password (seperti model langganan majalah/ jurnal). Komunikasi bisanya
dilakukan menggunakan e-mail atau forum diskusi khusus. Dalam hal ini biasanya
tidak terdapat fasilitas portofolio, sehingga dosen tidak memiliki informasi siapa
yang telah mengakses materi tertentu dan kapan akses dilakukan. Yang diperlukan
untuk menggunakan pendekatan ini hanyalah sebuah server Web.
Pada
cara kedua, selain diperlukan server Web juga diperlukan sebuah software (LMS) yang
berfungsi untuk mengelola e-learning. Software (sistem) LMS biasanya mempunyai
fasili tas-fasilitas yang berfungsi untuk (1) administrasi mahasiswa, (2) penyajian
materi, (3) komunikasi,(4) pencatatan (portofolio), (5) evaluasi, bahkan (6)
pengembangan materi. Berbeda dengan akses ke Web biasa, akses ke LMS biasanya
memerlukan nama user dan password, dan biasanya hanya dosen dan mahasiswa yang
terdaftar yang dapat melakukannya. Sistem LMS akan mencatat semua aktivitas
yang dilakukan mahasiswa selama mereka masuk ke dalam system e-learning. Pada gambar
berikut menyajikan diagram arsitektur sistem e-learning berbasis LMS (diadopsi
dari Kojhani, 2004).
Gambar
1 Arsitektur Sistem E-Learning
Gambar 2 Alur Belajar dalam Bahan Ajar Berbasis E-learning
Sumber:
Anderson, B. (2005). “Strategic e-learning
implementation.” Educational Technology & Society, 8 (4), 1-8. 1. ISSN
1436-4522
Rahmaniyah, Anna. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis E-Learning Pada Materi Hidrokarbon Dan Minyak Bumi Kelas X Semester
2. (Online), http://jurnal-online.um.ac.id/, diakses 15 Februari
2016.
Sahid. 2006. Pembelajaran Kimia
Polimer Melalui E-Learning. http://staff.uny.ac.id/sites/,
diakses 15 Februari 2016
bagaimana proses evaluasi dalam pembelajaran e-learning ?
BalasHapusevaluasi dpt dilakukan dengn memberikan tugas kpd siswa dan guru melakukan penilaian terhadap siswa dari tgas yg telah diberikan
HapusSedikit menambahkan, dalam pengembangan model e-learning perlu rancangan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diinginkan, khususnya dalam penggunaan internet. Menurut Haughey (Anwas, 2000) ada tiga kemungkinan dalam pengembangan sistem pembelajaran berbasis internet, yaitu web course, web centric course, dan web enhanced course. Web course adalah penggunaan internet untuk keperluan pendidikan, yang mana peserta didik dan pengajar sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka. Seluruh bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, ujian, dan kegiatan pembelajaran lainnya sepenuhnya disamapaikan melalui internet. Dengan kata lain model ini menggunakan sistem jarak jauh.
BalasHapusWeb centric course adalah penggunaan internet yang memadukan antara belajar jarak jauh dan tatap muka (konvensional). Sebagian materi disampaikan melalui internet, dan sebagian lagi melalui tatap muka. Dalam model ini pengajar bisa memberikan petunjuk pada siswa untuk mempelajari materi pelajaran melalui web yang telah dibuatnya. Siswa juga diberi arahan untuk mencari sumber lain dari situs-situs yang relevan. Dalam tatap muka, peserta didik dan pengajar lebih banyak diskusi tentang temuan materi yang telah dipelajari melalui internet.
Sedang model ketiga, web enhanced course adalah pemanfaatan internet untuk menunjang peningkatan peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan di kelas. Fungsi internet adalah untuk memberikan pengayaan dan komunikasi antara peserta didik dengan pengajar, sesama peserta didik, anggota kelompok, atau peserta didik dengan nara sumber lain. Peran pengajar dalam model ini dituntut untuk menguasahi teknik mencari informasi di internet, membimbing mahasiswa mencari dan menemukan situs-situs yang relevan dengan bahan pembelajaran, menyajikan materi melalui web yang menarik dan diminati, melayani bimbingan dan komunikasi melalui internet, dan kecakapan lain yang diperlukan.
sya setuju dg tambahan yang diberikan karena pd dasarnya rancangan e-learning harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diinginkan
Hapussedikit menambahkan Kebijakan institusi pendidikan dalam memanfaatkan teknologi internet menuju e-learning perlu kajian dan rancangan mendalam. E-learning bukan semata-mata hanya memindahkan semua pembelajaran pada internet. Hakikat e-learning adalah proses pembelajaran yang dituangkan melalui teknologi internet. Di samping itu prinsip sederhana, personal, dan cepat perlu dipertimbangkan. Untuk menambah daya tarik dapat pula menggunakan teori games Oleh karena itu prinsip dan komunikasi pembelajaran perlu didesain seperti layaknya pembelajaran konvensional. Di sini perlunya pengembangan model e-learning yang tepat sesuai dengan kebutuhan. Ada pendapat yang mengatakan bahwa media pembelajaran secanggih apapun tidak akan bisa menggantikan sepenuhnya peran guru. Penanaman nila-nilai dan sentuhan kepribadian sulit dilakukan. Di sini tantangan bagi para pengambil kebijakan dan perancang e-learning. Oleh karena itu penulis sependapat bahwa dalam sistem pendidikan konvensional, fungsi elearning adalah untuk memperkaya wawasan dan pemahaman peserta didik, serta proses pembiasaan agar melek sumber belajar khususnya teknologi internet.Menurut pendapat saya pembelajaran e-learning tidak menghubungkan ranah afektif dengan psikomotorik.. namun nanti akhirnya akan mendapatkan hasil yang masing2.. saat kita mengevaluasinya, maka akan terlihat perkembangannya sesuai dengan pendekatan yang kita lakukan.
BalasHapusTambahan , dari Hasil penelitian Setiawan (2014) tentang implementasi menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) menunjukkan bahwa faktor-faktor yang signifikan mempengaruhi penerimaan user (peserta didik atau guru) sebagai berikut.
BalasHapus1. Pengguna (peserta didik atau guru) yang sudah memahami kemudahan menggunakan sistem e-learning tersebut dan manfaat menggunakannya, maka akan mempunyai niat dan minat untuk menggunakan sistem e-learning. Dari minat penggunaan tersebut maka para pengguna akan senantiasa secara nyata menggunakan sistem e-learning sebagai sumber pembelajaran.
2. Keberadaan pemahaman akan manfaat penggunaan sangat dipengaruhi oleh faktor di luar pengguna yakni organisasi bahan ajar elektronik yang dimiliki oleh sistem e-learning tersebut. Lain halnya untuk pemahaman akan adanya kemudahan menggunakan sistem e-learning yang sangat dipengaruhi oleh faktor luar bagi sistem e-learning tersebut yakni kondisi dari perbedaan individu pengguna.
3. Bentuk model penerimaan sebuah teknologi informasi baru, yakni sistem e-learning yang diterapkan pada sampel pengguna yaitu ErO (relevansi e-resource dengan kebutuhan pembelajaran dan aksesibilitas e-resource dalam penggunaan) dan ID (visibilitas penggunaan, perkembangan diri teknologi komputer, pengalaman atas penggunaan komputer, dan pengetahuan akan bahan ajar) sebagai faktor laten luar atau faktor eksternal. PEoU (kemudahan untuk dipelajari/dipahami, kemudahan untuk digunakan, dan frekuensi penggunaan dalam pembelajaran), PU (kemudahan untuk meningkatkan keterampilan pembelajaran, mempertinggi efektifitas pembelajaran, menjawab kebutuhan pembelajaran, meningkatkan hasil pencapaian pembelajaran, meningkatkan efisiensi pembelajaran, dan memungkinkan adanya pengembangan cara pembelajaran), ITU (penambahan software/plugin pendukung, motivasi untuk tetap menggunakan dalam pembelajaran, dan memotivasi pengguna lain) dan ASU (lama penggunaan dalam pembelajaran dan kepuasan penggunaan dalam pembelajaran) sebagai faktor dalam atau faktor internal.
tambahan mengenai blog anda :
BalasHapuse-learning ,sebagian besar berkaiatan dengan kegiatan yang melibatkan komputer dan jaringan interaktif secara bersamaan. Artinya, komputer tidak perlu menjadi elemen pusat dalam kegiatan atau menyediakan isi pembelajaran, tetapi computer dan jaringan harus memegang keterlibatan besar dalam kegiatan pembelajaran;
2. Online learning, dihubungkan dengan konten yang siap diakses pada komputer. Konten tersebut mungkin di Web atau internet, atau hanya diinstal pada CD-ROM atau hard disk computer;
3. Distance learning, melibatkan interaksi pada jarak jauh antara instruktur dan peserta didik, dan memungkinkan reaksi instruktur tepat waktu pada peserta didik. Dengan cukup memposting atau menyiarkan materi pembelajaran untuk peserta didik bukan merupakan pembelajaran jarak jauh. Instruktur harus terlibat dalam menerima umpan balik dari peserta didik; dan
4. web-based learning, dihubungkan dengan materi pembelajaran yang disampaikan dalam Web browser, termasuk ketika materi dikemas dalam CD-ROM atau media lain
Salah satu faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku penerimaan teknologi dalam e-learning?
BalasHapusTerdapat beberapa komponen dalam model mental, seberapa penting pengaruh model-model ini pada model mental dalam model pengembangan e-learning?
BalasHapusSaya akan menambahkan sedikit dari penjelasan anda. Penerapan e-learning banyak variasinya, karena perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang cepat. Ahli menekankan penerapan e-learning pada pembelajaran secara online dan dibagi menjadi dua yaitu sederhana dan terpadu. Penerapan e-learning yang sederhana hanya berupa kumpulan bahan pembelajaran yang dimasukkan ke dalam web server dan ditambah dengan forum komunikasi melalui e-mail dan atau mailing list (milist). Penerapan terpadu yaitu berisi berbagai bahan pembelajaran yang dilengkapi dengan multimedia dan dipadukan dengan sistem informasi akademik, evaluasi, komunikasi, diskusi, dan berbagai sarana pendidikan lain, sehingga menjadi portal e-learning. Pembagian tersebut di atas berdasarkan pada pengamatan dari berbagai sistem pembelajaran berbasis web yang ada di internet. Ada tiga jenis format penerapan e-learning, yaitu:
BalasHapus1. Web Supported e-learning, yaitu pembelajaran tetap dilakukan secara tatap muka dan didukung dengan penggunaan website yang berisi rangkuman tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, tugas, dan tes singkat
2. Blended or mixed mode e-learning, yaitu sebagaian proses pembelajaran dilakukan secara tatap muka dan sebagian lagi dilakukan secara online
3. Fully online e-learning format, yaitu seluruh proses pembelajaran dilakukan secara online termasuk tatap muka antara pendidik dan peserta didik juga dilakukan secara online yaitu dengan menggunakan teleconference.
Ada tiga jenis format penerapan e-learning yang anda sebutkan, mana yang lebih baik?
BalasHapusmenurt sya Blended or mixed mode e-learning, yaitu sebagaian proses pembelajaran dilakukan secara tatap muka dan sebagian lagi dilakukan secara online
Hapusbagaimanakah kriteria elearning yang baik sebagai media pembelajaran?
BalasHapusJelaskan maksud dari performansi peserta didik melalui e-learning adalah memperlihatkan kemampuan e-learning dalam pengintegrasian proses pembelajaran?
BalasHapusBerdasarkan yang anda sampaikan diatas , ada tertulis Penerapan e-learning banyak variasinya. Berikan contoh variasi yang dimaksud
BalasHapusE-learning seperti apa yang akan anda gunakan jika mengajar nanti? Mengapa?
BalasHapusPrinsip pembelajaran berbasis web, yaitu :
BalasHapus1. Web Course
proses aktivitas pembelajaran yang terjadi tanpa tatap muka secara langsung antara pengajar dan peserta didik.web course ini ada 2 macam :
a. synchronize : Pengajar dan peserta didik melakukan pembelajaran dalam waktu yang bersamaan di tempat yang berbeda.
b.Asynchronize : Pengajar dan peserta didik melakukan pembelajaran dalam waktu yang tentukan dan ditempat yang berbeda. Misalnya pengajar bertanya dengan peserta didik, lalu si peserta didik tidak harus menjawab pada saat itu juga akan tetapi bisa di lain waktu.
2. Web Centric Course
Aktivitas pembelajaran yang 50% nya mencakup synchronize dan asynchronize dan 50% nya lagi melakukan aktivitas pembelajaran dengan berinteraksi secara langsung.
3. Web Enhanced Course
Kegiatan tatap muka biasa secara langsung dan dihadiri juga sumber lain misalnya dengan menampilkan video ataupun dengan mengakses sumber lain dari internet pada saat proses pembelajaran
menurut anda apakah dengan pembelajaran e-learning siswa dapat lebih mudah belajar dan materi yang disampaikan dapat terserap dengan baik?
BalasHapusSecara garis besar, teknis pelaksanaan e-learning dapat dilakukan dengan dua cara, yakni: (1) hanya menggunakan media Web biasa, berikan contoh webnya.
BalasHapusSedikit menambahkan
BalasHapusManfaat E-Learning
E-learning mempermudah interaksi antara siswa dengan bahan/materi pelajaran. Demikian juga interaksi antara siswa dengan guru maupun antara sesama siswa. Siswa dapat saling berbagi informasi atau pendapat mengenai berbagai hal yang menyangkut pelajaran ataupun kebutuhan pengembangan diri siswa. Guru dapat menempatkan bahan-bahan belajar dan tugas-tugas yang harus
dikerjakan oleh siswa di tempat tertentu di dalam web untuk diakses oleh para siswa. Menurut Siahaan (2002) sebagaimana dikutip oleh Ahlis (2007: 24-26) manfaat e-learning dapat dilihat dari dua sudut, yaitu:
1 Sudut Siswa
Dengan kegiatan e-learning dimungkinkan berkembangnya fleksibilitasbelajar yang tinggi, artinya siswa dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang kali. Siswa juga dapat berkomunikasi dengan guru setiap saat, dengan kondisi yang demikian ini siswa dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran.
2 Sudut Guru
Beberapa manfaat yang diperoleh guru, instruktur antara lain adalah bahwa guru, instruktur dapat :
(1) Lebih mudah melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar yang menjadi tanggung-jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang terjadi.
(2) Mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna peningkatan wawasannya karena waktu luang yang dimiliki relatif lebih banyak.
(3) Mengontrol kegiatan belajar siswa. Bahkan guru atau instruktur juga dapat mengetahui kapan siswanya belajar, topik apa yang dipelajari, berapa lama sesuatu topik dipelajari, serta berapa kali topik tertentu dipelajari ulang.
(4) Mengecek apakah siswa telah mengerjakan soal-soal.
(5) Latihan setelah mempelajari topik tertentu, dan memeriksa jawaban siswa dan memberitahukan hasilnya kepada siswa. Seiring perkembangan teknologi internet, metode e-learning mulai dikembangkan. MOODLE adalah sebuah nama untuk sebuah program aplikasi yang dapat mengubah sebuah media pembelajaran kedalam bentuk web. Aplikasi ini memungkinkan siswa untuk masuk kedalam “ruang kelas” digital untuk mengakses materi-materi pembelajaran. Dengan menggunakan MOODLE, kita dapat membuat materi pembelajaran, kuis, jurnal elektronik dan lain-lain. MOODLE itu sendiri adalah singkatan dari Modular Object Oriented Dynamic Learning Environment (Prakoso, 2005: 13).